Penulis : Zulhajar,S.IP.,MA.
Ilustrasi
Pemilihan umum menjadi peristiwa penting yang hasilnya memengaruhi arah kebijakan nasional. Proses demokrasi menuju pesta lima tahunan yang begitu panjang dan melelahkan secara psikologis bagi warga, mesti menjadi perhatian serius pemerintah dan penyelenggara pemilu.
menurunkan laporan utama “Jaga Kesehatan Mental Anak Muda Indonesia”. Disebutkan bahwa kesehatan mental di kalangan anak muda makin sering ditemukan. Meski demikian, hanya 2,6 persen remaja dengan masalah kesehatan mental yang pernah mengakses layanan kesehatan jiwa untuk membantu mengatasi masalah emosi dan perilaku mereka.
Gegap gempita kontastasi politik menjelang 2024, di mana warga akan memilih anggota DPR, DPRD provinsi dan kabupaten/kota, juga presiden dan wakil presiden 2024-2029, berpotensi menambah beban kesehatan mental jika tak disiapkan mitigasinya jauh-jauh hari.
Dan dia sangat getol bela setiap kebijakannya. Dan saya tau dia fanatic karena saya suka perhatikan di media sosialnya yang selalu mendukungnya.
Namun di perhelatan pilpres 2024, teman saya memilih untuk mundur mengidolakannya, dan sekarang dia milih berhijrah ke paslon pilpres lain, dia sangat kecewa, karena menurutnya idolanya kini sudah berubah karakter dari sebelumnya dan tidak seperti apa yang ia harapkan.
Sikap fanatisme seperti itu memang wajar dan itu adalah hak setiap orang untuk menentukan hak pilihnya.
Namun ada yang harus diwaspadai apakah perasaan tersebut berdampak terhadap seseorang sehingga mengakibatkan gangguan mental yang berkepanjangan yang disebut Election Stress Disorder
Menurutnya bagi banyak orang, berita, informasi, dan obrolan terkait pilpres yang muncul secara terus menerus akan mengakibatkan ledakan emosional dalam diri mereka.
Salahsatu cirinya adalah adanya kecemasan dan stress lainnya dan bisa berdampak kepada kesehatan fisik dan mental.Biasannya akan lebih reaktif,dan mudah tersinggung, bahkan hingga menarik diri dari lingkungannya.
Salam..persahabatan.
Mulai Dari Gerbang Timur Makassar……?

