Tulungagung,-Ambruknya salah satu bangunan di SDN 1 Babadan, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Tulungagung, memicu sorotan publik terkait pengawasan dan pendataan kondisi bangunan sekolah oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung.
Dalam konfirmasi dan klarifikasi kepada awak media, Kabid SD Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung, Dwi Teguh Prasetya, S.STP., M.M., menjawab sejumlah pertanyaan terkait keluhan warga yang disebut sudah muncul sebelum bangunan ambruk, sistem pengawasan sekolah, hingga langkah penanganan yang akan dilakukan pemerintah.
Menanggapi pertanyaan apakah keluhan masyarakat selama ini diabaikan, Teguh membantah hal tersebut. Menurutnya, Dinas Pendidikan tetap memprioritaskan sekolah yang membutuhkan perbaikan, namun pihaknya baru menerima informasi terkait kondisi SDN 1 Babadan sehari sebelum kejadian.
“Sebenarnya tidak diabaikan. Kami tetap memprioritaskan sekolah yang membutuhkan penanganan. Untuk SDN 1 Babadan, saya baru mengetahui kondisinya kemarin dan hari ini kami jadwalkan peninjauan lapangan,” ujarnya, Selasa (26/5/2026).
Terkait bangunan yang ambruk, Teguh menjelaskan bahwa berdasarkan informasi dari pihak sekolah, ruangan tersebut sudah tidak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar (KBM).
Ia juga mengakui belum menerima laporan tertulis sebelumnya mengenai kerusakan bangunan tersebut. Menurutnya, informasi yang diterima baru masuk sehari sebelum kejadian sehingga pihaknya langsung menjadwalkan monitoring dan evaluasi ke lokasi.
Saat ditanya mengenai dugaan kelalaian pengawasan, Teguh mengakui masih terdapat berbagai keterbatasan dalam pemantauan kondisi sekolah dan menilai peran aktif masyarakat serta pihak sekolah sangat diperlukan untuk menyampaikan informasi kerusakan yang terjadi di lapangan.
“Kami menyadari masih banyak kekurangan. Karena itu peran serta masyarakat dan sekolah sangat penting sebagai tambahan informasi yang akan kami tindak lanjuti,” katanya.
Teguh juga membantah anggapan bahwa Dinas Pendidikan baru bergerak setelah bangunan ambruk dan menjadi sorotan publik. Ia menyebut survei kondisi sekolah merupakan bagian dari proses perencanaan pembangunan dan penganggaran yang rutin dilakukan.
Namun demikian, Teguh mengakui bahwa SDN 1 Babadan belum masuk dalam perencanaan anggaran perbaikan sebelumnya karena kondisi kerusakan tersebut baru diketahui oleh pihaknya.
“Memang SDN 1 Babadan belum masuk dalam perencanaan karena kami baru mengetahui kondisinya. Ke depan kami akan memperkuat basis data kondisi bangunan sekolah agar sesuai dengan kondisi nyata di lapangan,” jelasnya.
Pengakuan paling penting disampaikan Teguh saat menjelaskan bahwa Dinas Pendidikan sebenarnya telah memiliki data kondisi bangunan sekolah, namun data tersebut belum diperbarui secara berkala.
“Data memang sudah ada, tetapi belum ter-update secara berkala. Ke depan akan kami perbarui secara rutin dan kami tingkatkan monitoring ke sekolah-sekolah yang membutuhkan perhatian khusus,” ungkapnya.
Terkait kritik mengenai lambatnya respons terhadap keluhan masyarakat yang menyangkut keselamatan siswa, Teguh menegaskan pihaknya telah bekerja sesuai kemampuan dan kewenangan yang dimiliki.
“Kami berusaha bekerja secara optimal dengan segala keterbatasan yang ada. Yang jelas, persoalan ini akan menjadi perhatian serius dan akan kami tindak lanjuti agar siswa dapat belajar dengan aman dan nyaman,” pungkasnya.
Ambruknya bangunan SDN 1 Babadan menjadi evaluasi penting bagi Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung. Selain menyoroti lemahnya pembaruan data kondisi bangunan sekolah, peristiwa ini juga memunculkan tuntutan agar sistem pengawasan, pendataan, dan deteksi dini kerusakan sarana pendidikan diperkuat demi menjamin keselamatan siswa dan tenaga pendidik.(Ft)

