Site icon Saksi Hukum Indonesia

Viral Guru Razia Makeup Pelajar, Seberapa Tegas Sekolah di Tulungagung?

TULUNGAGUNG,-foto seorang guru yang menertibkan siswi dengan makeup tebal menggunakan tisu basah viral di media sosial. Aksi tersebut justru mendapat dukungan luas dari netizen yang menilai sekolah perlu tegas menjaga kedisiplinan dan kepantasan penampilan peserta didik.

Fenomena ini pun memantik sorotan di Kabupaten Tulungagung. Di tengah tren skincare dan makeup yang semakin kuat di kalangan remaja, muncul pertanyaan serius: sejauh mana sekolah mengawasi penampilan pelajar ketika berada di lingkungan pendidikan?

Ardi, warga Desa Beji yang tinggal tidak jauh dari sejumlah lembaga pendidikan favorit, mengaku kerap melihat pelajar dengan penggunaan makeup yang menurutnya sudah berlebihan.

Kalau saya melihat di sekitar sini, ada siswi yang makeup-nya cukup tebal. Menurut saya sudah tidak sewajarnya untuk penampilan seorang pelajar ketika berada di sekolah,” ujar ardi.

Ia menyebut pemandangan tersebut antara lain terlihat pada sejumlah siswi dari SMK Negeri 1 Boyolangu dan SMK Negeri 2 Boyolangu. Meski demikian, sorotan tersebut bukan ditujukan kepada seluruh siswi, melainkan terhadap penggunaan makeup yang dinilai melewati batas kepantasan sebagai pelajar.

Menurut ardi, merawat diri melalui skincare tentu bukan persoalan. Demikian pula penggunaan makeup dalam batas wajar. Namun, ketika kosmetik digunakan secara berlebihan hingga membuat penampilan lebih menyerupai hendak menghadiri pesta atau membuat konten media sosial, sekolah dinilai perlu mengambil sikap.

Skincare dan merawat diri itu bagus. Tapi kalau sudah makeup berlebihan saat sekolah, tentu harus ada batasnya. Sekolah kan tempat belajar, bukan tempat pamer penampilan,” tegasnya.

Persoalan tersebut menjadi semakin penting karena SMP, SMA dan SMK memiliki tata tertib masing-masing terkait seragam, rambut, aksesori, kosmetik dan penampilan siswa. Aturan tersebut semestinya bukan sekadar menjadi tulisan dalam buku tata tertib, tetapi benar-benar diterapkan secara konsisten.

Sekolah dituntut tegas, tetapi tetap mengedepankan pendekatan edukatif. Menertibkan siswa bukan berarti mempermalukan mereka. Guru perlu memberikan pemahaman bahwa disiplin penampilan merupakan bagian dari pembentukan karakter dan budaya sekolah.

Di sisi lain, orang tua juga tidak bisa sepenuhnya menyerahkan persoalan tersebut kepada sekolah. Tren skincare, makeup, influencer dan media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan remaja. Karena itu, pengawasan dan komunikasi antara orang tua dengan anak juga menjadi sangat penting.

Viralnya foto razia makeup seharusnya menjadi momentum evaluasi. Jangan sampai sekolah memiliki tata tertib yang tegas di atas kertas, tetapi longgar ketika diterapkan di lapangan.

Sebab persoalannya bukan sekadar makeup tebal atau tipis. Lebih jauh, ini menyangkut bagaimana sekolah dan keluarga membentuk pola pikir pelajar agar mampu membedakan antara merawat diri, mengikuti tren, dan berpenampilan sesuai tempat serta situasi.

Sekolah bukan panggung fashion, bukan studio konten, dan bukan tempat mengejar validasi penampilan. Sekolah adalah ruang untuk belajar, membangun karakter dan mengejar prestasi.

Skincare boleh menjadi bagian dari perawatan diri. Makeup pun bukan sesuatu yang harus dianggap tabu. Tetapi ketika memasuki lingkungan sekolah, kepantasan, kedisiplinan dan tujuan pendidikan tetap harus menjadi prioritas.(Ft)

Exit mobile version