Site icon Saksi Hukum Indonesia

Kades Segawe Bantah Ada Kelangkaan Air di SD, Sebut Persoalan Internal dan Kurang Koordinasi

TULUNGAGUNG,-Kepala Desa Segawe, Sukadi, memberikan klarifikasi terkait pemberitaan mengenai dugaan kekurangan atau kelangkaan air yang disebut terjadi di salah satu sekolah dasar (SD) di wilayah Desa Segawe, Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung.

Kadi menegaskan, kondisi yang terjadi di sekolah tersebut tidak dapat disebut sebagai kelangkaan air di wilayah desa. Menurutnya, persoalan lebih berkaitan dengan kebutuhan air di lingkungan sekolah serta kurangnya koordinasi antara pihak-pihak terkait.

Sebetulnya tidak ada kekurangan air. Itu persoalan internal di sekolah. Kalau dari pihak desa juga tidak langka,” ungkap Kadi saat memberikan klarifikasi, Senin (15/9/2026).

Ia menjelaskan, kebutuhan air untuk sekolah sebenarnya masih dapat dipenuhi dan tidak menunjukkan kondisi kelangkaan sebagaimana informasi yang berkembang. Sistem penyediaan air melalui Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM) di wilayah tersebut juga disebut masih berjalan.

Alhamdulillah, HIPPAM masih berjalan,” jelasnya.
Kadi mengaku cukup terkejut ketika memperoleh informasi bahwa sekolah disebut mengalami kekurangan air. Sebab, selama ini pihak desa tidak mengetahui adanya persoalan serius terkait kebutuhan air di sekolah tersebut.

Menurutnya, kondisi tersebut kemungkinan muncul karena adanya persoalan komunikasi atau koordinasi di tingkat internal sekolah. Apabila kebutuhan air tidak disampaikan secara langsung kepada pemerintah desa, pihak desa juga akan kesulitan mengambil langkah penanganan.

Kalau ada kebutuhan seperti itu, mestinya dikomunikasikan. Kami juga tidak pernah mendapat informasi bahwa sekolah mengalami kekurangan air sampai seperti yang diberitakan,” katanya.

Kadi menegaskan, pemerintah desa tidak pernah mengabaikan lembaga pendidikan yang berada di wilayahnya. Pemerintah Desa Segawe, kata dia, tetap terbuka apabila terdapat kebutuhan sekolah yang memang membutuhkan koordinasi maupun dukungan dari desa.

Ia juga menepis kesan bahwa munculnya persoalan tersebut menunjukkan pemerintah desa tidak memberikan perhatian terhadap sekolah.

Menurut Kadi, sebelumnya pihak sekolah pernah menyampaikan persoalan terkait kebutuhan air dalam sebuah kegiatan di tingkat kecamatan. Namun, pada saat itu kondisi yang disampaikan dinilai masih dapat ditata dan belum menunjukkan adanya kelangkaan air.

Pernah disampaikan, tetapi waktu itu tidak ada persoalan yang sampai seperti ini. Kalau memang ada kekurangan, masih bisa ditata,” ujarnya.

Kadi menambahkan, persoalan kebutuhan air di sekolah semestinya tidak langsung berkembang menjadi kesan bahwa Desa Segawe mengalami kelangkaan air. Terlebih, jaringan HIPPAM yang selama ini melayani masyarakat masih berjalan.

Ia menilai, koordinasi menjadi hal penting agar persoalan teknis di lapangan dapat segera diketahui dan ditangani sebelum berkembang menjadi kesalahpahaman.

Harapannya dengan adanya pemberitaan ini, semuanya bisa diluruskan. Jangan sampai muncul kesan desa tidak memperhatikan sekolah. Kalau memang ada persoalan, mari dikoordinasikan,” tegasnya.

Kadi juga memastikan pihaknya tetap siap melakukan koordinasi apabila sekolah benar-benar membutuhkan dukungan terkait pemenuhan air bersih. Pemerintah desa, menurutnya, tidak akan tinggal diam apabila terdapat persoalan yang memang membutuhkan penanganan bersama.

Dengan adanya klarifikasi tersebut, persoalan kebutuhan air di sekolah diharapkan tidak berhenti pada pernyataan masing-masing pihak. Pemerintah desa mendorong agar persoalan tersebut segera ditindaklanjuti melalui koordinasi antara pihak sekolah, pengelola HIPPAM, dan Pemerintah Desa Segawe.

Langkah tersebut dinilai penting agar kebutuhan air untuk menunjang aktivitas belajar mengajar tetap terjamin sekaligus memastikan informasi mengenai kondisi ketersediaan air di wilayah Desa Segawe sesuai dengan fakta di lapangan.

Kadi menegaskan kembali bahwa persoalan yang terjadi di sekolah tidak serta-merta dapat disebut sebagai kelangkaan air di Desa Segawe. Menurutnya, apabila memang terdapat kekurangan pasokan untuk kebutuhan sekolah, persoalan tersebut masih dapat dicarikan solusi melalui komunikasi dan penataan bersama.(Ft)

Exit mobile version