Site icon Saksi Hukum Indonesia

Plt Bupati Ahmad Baharudin Serahkan Legalitas Pakudatu, Pagelaran Wayang Kolaborasi Perkuat Pelestarian Seni Tradisi Tulungagung

TULUNGAGUNG,-Pemerintah Kabupaten Tulungagung terus memperkuat komitmen dalam menjaga dan melestarikan seni budaya tradisional. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyerahan legalitas organisasi Pakudatu (Paguyuban Dalang Tulungagung) oleh Plt. Bupati Tulungagung, H. Ahmad Baharudin, S.M., M.M., sekaligus penyelenggaraan Pagelaran Wayang Kulit Kolaborasi dalam rangka memperingati Hari Wayang Nasional 2026 dan Hari Jadi Kabupaten Tulungagung ke-821.

Penyerahan legalitas Pakudatu menjadi langkah strategis untuk memperkuat eksistensi organisasi sebagai wadah bagi para dalang dan pelaku seni pewayangan di Kabupaten Tulungagung. Dengan legalitas yang jelas, Pakudatu diharapkan semakin solid dan profesional dalam menjalankan peran pembinaan, pengembangan kreativitas, serta pelestarian seni pedalangan secara terarah dan berkelanjutan.

Plt. Bupati Ahmad Baharudin menekankan pentingnya memberikan ruang dan kesempatan kepada generasi muda untuk mengenal, mempelajari, serta mengembangkan seni pewayangan. Regenerasi menjadi faktor penting agar seni pedalangan tidak sekadar bertahan sebagai warisan masa lalu, tetapi terus hidup, berkembang, dan diminati generasi penerus.

Keberadaan Pakudatu diharapkan tidak hanya menjadi wadah berkumpulnya para dalang, tetapi juga mampu mengambil peran aktif dalam pembinaan, pelatihan, regenerasi dalang, serta pengembangan inovasi seni pewayangan.

Sebagai bagian dari penguatan pelestarian budaya, Pemerintah Kabupaten Tulungagung melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) menggelar Pagelaran Wayang Kulit Kolaborasi yang memadukan tiga bentuk kesenian tradisional, yakni Wayang Kulit, Wayang Sandosa, dan Wayang Orang.

Pagelaran tersebut berlangsung pada Jumat, 6 November 2026, mulai pukul 20.00 WIB hingga selesai, bertempat di Titik 0 Kilometer, kawasan Taman Alun-Alun Tulungagung. Kegiatan ini terbuka gratis bagi masyarakat umum.

Mengangkat lakon “Berdikari, Apakah Aku adalah Aku?”, pertunjukan tersebut menyampaikan pesan tentang jati diri, kemandirian, serta nilai-nilai kehidupan melalui kekayaan seni pewayangan.

Kolaborasi tiga genre pewayangan dalam satu panggung menjadi daya tarik tersendiri. Perpaduan Wayang Kulit, Wayang Sandosa, dan Wayang Orang menunjukkan bahwa seni tradisional dapat terus dikembangkan secara kreatif dan inovatif tanpa meninggalkan akar budaya maupun nilai-nilai luhur warisan leluhur.

Pagelaran ini turut menghadirkan Jo Klitik dan Jo Klutuk sebagai bintang tamu, dengan persembahan dari Pakudatu.

Kegiatan tersebut dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Tulungagung, Drs. Tri Hariadi, M.Si.,Turut hadir Ketua DPRD Kabupaten Tulungagung, Marsono, S.Sos., Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung, Drs. Johannes Bagus Kuncoro, M.Si., serta Ketua Panitia Hari Jadi Kabupaten Tulungagung ke-821, Ir. Mulyanto, S.Pt., M.M., bersama jajaran terkait.

Dalam sambutannya, mewakili Plt. Bupati Ahmad Baharudin, Tri Hariadi menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pagelaran tersebut. Ia menilai kolaborasi Wayang Kulit, Wayang Sandosa, dan Wayang Orang merupakan konsep pertunjukan menarik yang memberikan pengalaman berbeda sekaligus memperkaya penyajian seni tradisional kepada masyarakat.

Tri Hariadi mengaku belum pernah menyaksikan secara langsung bentuk kolaborasi seni seperti yang ditampilkan malam itu. Menurutnya, konsep tersebut mampu menghadirkan rasa penasaran sekaligus memberikan warna baru dalam pengembangan seni pewayangan.

Ia menegaskan bahwa seni pewayangan bukan sekadar sarana hiburan, melainkan juga mengandung nilai pendidikan dan filosofi kehidupan. Wayang memiliki tiga fungsi penting, yakni sebagai tontonan, tuntunan, dan tatanan yang dapat menjadi sumber pembelajaran bagi masyarakat.

Menurutnya, setiap karakter dan cerita dalam pewayangan menyimpan pesan moral serta nilai kehidupan yang patut dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ia berharap pertunjukan tersebut tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga memperluas wawasan masyarakat mengenai filosofi yang terkandung dalam cerita pewayangan. Salah satunya melalui kisah Dewa Ruci yang sarat dengan simbol dan pesan filosofis, termasuk nilai-nilai kepahlawanan yang dapat dijadikan teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut, Tri Hariadi menyampaikan bahwa pagelaran tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Tulungagung ke-821. Pemerintah Kabupaten Tulungagung telah menyiapkan berbagai agenda kegiatan sejak Oktober hingga Desember 2026.

Ia mengajak seluruh masyarakat untuk mengikuti dan berpartisipasi aktif dalam berbagai rangkaian kegiatan tersebut. Menurutnya, peringatan hari jadi bukan sekadar agenda seremonial pemerintah, melainkan momentum kebersamaan yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk terlibat langsung dalam berbagai kegiatan daerah.

Tri Hariadi berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat memberikan manfaat luas bagi masyarakat, baik yang hadir secara langsung maupun yang menyaksikan melalui layar dari rumah masing-masing.

Sementara itu, melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Pemerintah Kabupaten Tulungagung terus mendorong penguatan ekosistem seni dan budaya daerah. Dukungan terhadap Pakudatu diharapkan mampu membangun sinergi antara pemerintah daerah, para dalang, dan seluruh pemangku kepentingan kebudayaan dalam menjalankan program pelestarian seni tradisional.

Peran para dalang dan pelaku seni dinilai strategis dalam menjaga identitas budaya daerah sekaligus mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi mendatang. Karena itu, pembinaan, regenerasi, dan pengembangan kreativitas harus menjadi perhatian bersama agar seni pewayangan mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

Penyerahan legalitas Pakudatu dan penyelenggaraan Pagelaran Wayang Kulit Kolaborasi menjadi wujud dukungan pemerintah daerah terhadap keberadaan organisasi seni sekaligus penguatan komitmen bersama dalam menjaga keberlangsungan seni pewayangan.

Melalui sinergi pemerintah daerah, Disbudpar, Pakudatu, para dalang, dan seluruh pelaku seni, pelestarian budaya diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Diperlukan pembinaan yang konsisten, regenerasi yang berkelanjutan, inovasi pertunjukan, serta program nyata agar seni pewayangan tetap hidup, berkembang, dan menjadi identitas sekaligus kebanggaan masyarakat Tulungagung.(Ft)

Exit mobile version