PGRI Anugerahkan Gelar Ibunda Guru kepada Dra. Hj. Endang Dwi Retnowati dalam Peringatan HUT ke-80 yang Penuh Kehormatan
TULUNGAGUNG,-Suasana hangat, penuh kebanggaan, dan sarat makna mewarnai apel peringatan HUT Ke-80 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Hari Guru Nasional 2025 yang digelar PGRI Kabupaten Tulungagung di Sekretariat PGRI Tulungagung, Rabu (26/11/2025). Ribuan guru dari seluruh penjuru Tulungagung tumplek blek menyatukan semangat yang sama: merayakan pengabdian, memperkokoh solidaritas, dan menyuarakan harapan.
Salah satu momen paling berkesan adalah dikukuhkannya Dra. Hj. Endang Dwi Retnowati Gatut Sunu Wibowo sebagai Ibunda Guru Kabupaten Tulungagung oleh Ketua PGRI Provinsi Jawa Timur Dr. Dra. Hj. Dwi Retnani Sinarwati, M.Si. Pengukuhan ini menjadi simbol kedekatan PGRI dengan sosok yang telah puluhan tahun berkecimpung di dunia pendidikan.
Hadir dalam acara tersebut Bupati Tulungagung H. Gatut Sunu Wibowo, S.E., M.E., istri, Wakil Bupati H. Ahmad Baharudin, S.M., Ketua DPRD Tulungagung, Kepala Dinas Pendidikan, Ketua PGRI Tulungagung Muhadi, serta para tokoh pendidikan.
Dengan tema “Guru Bermutu Indonesia Maju, Bersama PGRI Wujudkan Indonesia Emas”, acara ini tak sekadar seremonial. Ada pesan, harapan, dan suara-suara yang ingin diperjuangkan.
Dalam sambutannya, Muhadi tampil lugas menyampaikan persoalan yang dirasakan para guru di Tulungagung. Tiga poin utama disorot:
1. Nasib GTT–PTT yang Menunggu Kepastian P3K
Ia menegaskan banyak tenaga GTT dan PTT yang bertahun-tahun menunggu kejelasan status kepegawaian.
Mohon Pak Bupati, Pak Wabup, dan seluruh jajaran Pemkab Tulungagung bisa memberikan kepastian bagi saudara-saudara kami yang menunggu P3K paruh waktu,” harapnya.
2. Kekosongan Jabatan Kepala Sekolah
Lebih dari 120 sekolah di Tulungagung belum memiliki kepala sekolah definitif.
Merangkap satu rumah saja berat, apalagi dua sampai tiga sekolah. Harapan kami, Januari 2026 sudah bisa terisi,” ungkapnya.
3. Kenaikan Pangkat Guru yang Lama
Ia meminta agar proses kenaikan pangkat bisa kembali normal, tanpa harus menunggu hingga 6–7 tahun.
Idealnya empat tahun. Semoga bisa dipercepat kembali,” tegasnya.
Muhadi mengajak seluruh guru memahami bahwa Hari Guru Nasional tidak bisa dilepaskan dari lahirnya PGRI. Ia mengutip Keppres Nomor 78 Tahun 1994 yang menetapkan 25 November sebagai HUT PGRI sekaligus Hari Guru Nasional.
Ada sinyalemen upaya memisahkan dua momen ini. Padahal sejarahnya sangat jelas,” ujarnya.
Dikukuhkan sebagai Ibunda Guru Kabupaten Tulungagung, Dra. Hj. Endang Dwi Retnowati mengaku penuh rasa haru.
Saya bukan hanya istri kepala daerah. Saya terlahir dari keluarga guru dan sudah mengabdi 30 tahun. Saya bagian dari panjenengan semua,” tuturnya,Rabu(26/11/2025).
Ia menambahkan bahwa usia 80 tahun bagi PGRI adalah simbol keteguhan dan perjuangan panjang para guru dalam membangun generasi bangsa.
Dalam sambutannya, Bupati H. Gatut Sunu Wibowo menekankan pentingnya peran PGRI sebagai organisasi modern, lincah, dan proaktif.
PGRI harus terus memperjuangkan martabat guru sekaligus menjaga etika profesi,” katanya.
Ia optimistis visi “Guru Bermutu Indonesia Maju, Bersama PGRI Wujudkan Indonesia Emas” akan benar-benar terwujud di Tulungagung.
Kalau guru hebat, Indonesia pasti kuat. Saya percaya itu,” ujarnya.
Acara ditutup dengan peninjauan bazar dari 19 kecamatan serta peresmian masjid di lingkungan sekretariat PGRI.(Ft)









