KANG DEDI MULYADI PERTONTONKAN KARNAVAL BINOKASIH TATAR SUNDA, ADA MISI BESAR DI BALIKNYA YANG TIDAK DI KETAHUI PUBLIK

Karnaval Binokasih Tatar Sunda yang digelar oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bukan sekadar acara hiburan, melainkan sebuah gerakan budaya yang sarat makna historis, identitas, dan strategis. Berdasarkan Harapan Dan Keinginan Dari Kang Dedi Mulyadi Yang Beberapa Kali Selalu Di Ulang Dalam Berbagai Unggahan, berikut adalah 5 Kesimpulan makna di balik acara tersebut:

1. Simbol Pengembalian Nilai Leluhur dan Warisan Kerajaan

Inti dari karnaval ini adalah pengarakkan Mahkota Binokasih, benda bersejarah yang menjadi simbol kebesaran dan legitimasi kekuasaan Kerajaan Sunda Pajajaran serta Sumedang Larang. Prosesi ini diangkat dengan tema “Mulang Salaka” yang berarti “kembali ke asal”, melambangkan kembalinya nilai-nilai luhur, kearifan lokal, dan warisan peradaban Sunda ke tengah masyarakat modern.

2. Menelusuri Jejak Sejarah Peradaban Sunda

Karnaval dirancang dengan rute yang melintasi wilayah-wilayah yang memiliki nilai historis penting, mulai dari Sumedang, Kawali (pusat Kerajaan Sunda), Kampung Naga (simbol ketahanan budaya), Cianjur, Bogor, Depok, Karawang, hingga berakhir di Cirebon. Setiap titik perjalanan membawa narasi tentang perjalanan sejarah Sunda, dari masa kerajaan hingga terbentuknya Kasultanan Cirebon, sehingga masyarakat diajak untuk mengenal dan memahami akar sejarah tanah Sunda secara utuh.

3. Memperkuat Identitas Budaya dan Rasa Memiliki

Di tengah arus modernisasi dan globalisasi, karnaval ini menjadi upaya strategis untuk memperkuat identitas kultural masyarakat Jawa Barat. Melalui penampilan seni tradisional dari 27 kabupaten/kota, kostum adat, dan atraksi budaya, acara ini menumbuhkan rasa bangga dan rasa memiliki terhadap warisan leluhur, serta menjaga agar budaya Sunda tidak tergerus zaman.

BACA JUGA:  Wakili Kapolres Gowa, Kabag Ren Hadiri Buka Puasa dan Tarawih Bersama Pemkab Gowa

4. Transformasi Tradisi Menjadi Agenda Publik yang Luas

Awalnya, tradisi pengarakkan Mahkota Binokasih hanya dikenal di lingkungan Keraton Sumedang. Dengan inisiatif Dedi Mulyadi, tradisi ini diangkat menjadi agenda resmi tingkat provinsi yang diintegrasikan dengan program pemerintah, sehingga gaungnya lebih luas, dapat diakses oleh masyarakat umum, dan memiliki dampak yang lebih besar dalam pelestarian budaya.

5. Integrasi Budaya, Pariwisata, dan Pembangunan Wilayah

Karnaval ini juga diposisikan sebagai instrumen yang menggabungkan pelestarian sejarah dengan promosi pariwisata dan penataan wilayah. Setiap daerah yang dilewati mendapatkan perhatian untuk pemeliharaan situs sejarah, peningkatan fasilitas wisata, dan pengembangan potensi lokal, sehingga acara ini tidak hanya bernilai budaya tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat setempat.

Secara keseluruhan, Karnaval Binokasih Tatar Sunda adalah upaya untuk “menghidupkan kembali” sejarah, menyatukan berbagai wilayah di Jawa Barat melalui ikatan budaya, dan memastikan bahwa warisan peradaban Sunda tetap hidup dan dihargai oleh generasi sekarang dan mendatang.

Mungkin Anda juga menyukai