Plt Bupati Tulungagung Tegaskan GERMAS BerAKHLAK dan Kamtibmas melalui Jogo Tulungagung Pagerwojo
TULUNGAGUNG,-Penguatan gerakan Jogo Tulungagung terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Tulungagung dengan melibatkan langsung unsur pemerintahan hingga masyarakat. Kali ini, kegiatan Jogo Tulungagung digelar di Kantor Kecamatan Pagerwojo, Minggu (20/9/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Plt Bupati Tulungagung H. Ahmad Baharudin, S.M., M.M., Plt Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Tulungagung Hari Prastijo, jajaran Forkopimcam Pagerwojo, kepala desa se-Kecamatan Pagerwojo, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, organisasi pencak silat, serta unsur masyarakat dan media.
Jogo Tulungagung merupakan gerakan yang ditekankan sebagai bentuk pelaksanaan semangat Jaga Indonesia di tingkat daerah. Gerakan tersebut selanjutnya akan diperkuat hingga tingkat desa melalui Jogo Desa.
Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Baharudin menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh berjarak dengan masyarakat. Kehadiran pemerintah harus dirasakan dalam berbagai kondisi, terutama ketika masyarakat membutuhkan pelayanan, fasilitasi, maupun penyelesaian persoalan di wilayahnya.
Menurut Ahmad Baharudin, seluruh unsur pemerintahan pada dasarnya memiliki tugas yang sama, yakni melayani masyarakat.
Mulai dari RT, RW, kepala desa, camat, kepala dinas sampai bupati, pada prinsipnya adalah pelayan masyarakat,” tegasnya.
Ia menjelaskan, keberadaan aparatur pemerintahan bukan semata-mata untuk menjalankan struktur birokrasi, tetapi juga memastikan berbagai kegiatan masyarakat dapat berjalan dengan baik. Aturan yang dibuat pemerintah harus menjadi instrumen untuk menata dan memfasilitasi kepentingan masyarakat, bukan sekadar menjadi kewajiban administratif yang harus dipatuhi secara struktural.
Karena itu, Ahmad Baharudin mendorong seluruh jajaran pemerintahan di tingkat kecamatan maupun desa agar terus membangun komunikasi dan sinergi dengan masyarakat. Pemerintah harus mampu memahami persoalan yang muncul dari bawah dan mengambil langkah sesuai kewenangan serta ketentuan yang berlaku.
Selain pelayanan publik, ia menekankan pentingnya menjaga keamanan, ketertiban dan suasana yang kondusif. Menurutnya, kondisi yang aman dan damai merupakan fondasi penting agar pembangunan, kegiatan sosial serta aktivitas ekonomi masyarakat dapat berjalan secara berkelanjutan.
Semangat tersebut juga harus diwujudkan melalui gotong royong. Pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri dalam menangani seluruh persoalan pembangunan maupun sosial kemasyarakatan.
Dalam bidang pembangunan, Ahmad Baharudin menyampaikan gagasan “Satu Desa Satu Program” dapat menjadi salah satu bentuk penguatan pembangunan berbasis kebutuhan masyarakat. Namun, setiap usulan tetap harus direncanakan melalui mekanisme yang benar, termasuk Musrenbangdes dan Musrenbangcam, serta menyesuaikan ketentuan penggunaan anggaran negara maupun daerah.
Usulan pembangunan harus direncanakan dan dibahas melalui mekanisme yang ada. Jangan sampai program yang baik justru bermasalah karena tidak sesuai aturan,” ujarnya.
Ia juga memberikan perhatian terhadap persoalan pendidikan, khususnya masih adanya anak usia sekolah yang tidak melanjutkan pendidikan.
Ahmad Baharudin meminta kepala desa dan tokoh masyarakat tidak hanya menunggu laporan, tetapi aktif mengidentifikasi anak usia sekolah, terutama yang belum mencapai jenjang SMA, namun sudah tidak bersekolah.
Persoalan tersebut, menurutnya, membutuhkan kepedulian bersama. Pemerintah desa, tokoh masyarakat dan seluruh unsur yang berada paling dekat dengan warga diharapkan ikut mencari solusi agar anak-anak tersebut dapat kembali memperoleh hak pendidikannya.
Sementara itu, Camat Pagerwojo Wahyu Yuniarko, S.E., M.A.P., menyampaikan bahwa Pagerwojo memiliki posisi penting bagi lingkungan dan sumber daya air di Kabupaten Tulungagung.
Pagerwojo merupakan salah satu wilayah penyangga sumber oksigen dan air. Banyak mata air di kawasan tersebut mengalir dan memiliki keterkaitan dengan sumber air menuju Waduk Wonorejo.
Karena itu, Wahyu menekankan pentingnya menjaga lingkungan sebagai tanggung jawab bersama. Potensi alam yang dimiliki Pagerwojo tidak hanya harus dimanfaatkan, tetapi juga dijaga agar tetap memberikan manfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang.
Menurutnya, Jogo Tulungagung menjadi momentum untuk memperkuat rasa bangga sekaligus tanggung jawab masyarakat terhadap wilayahnya. Pagerwojo memiliki berbagai potensi yang perlu dikembangkan, baik dari sisi lingkungan, sosial, maupun kegiatan masyarakat.
Semangat tersebut telah ditunjukkan masyarakat melalui berbagai kegiatan gotong royong. Salah satunya dalam penanganan kondisi jalan di wilayah kecamatan.
Wahyu menyebut masyarakat secara swadaya telah mengumpulkan sekitar 21 ton material yang kemudian dimanfaatkan untuk membantu menambal sejumlah ruas jalan yang mengalami kerusakan.
Upaya tersebut menjadi bukti bahwa kepedulian masyarakat dapat menjadi kekuatan nyata ketika pemerintah dan warga bergerak bersama.
Ia bahkan menyebut gerakan tersebut sebagai semacam “laboratorium swadaya masyarakat”, karena masyarakat secara langsung mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan yang ada di lingkungannya.
Sejumlah ruas jalan memang telah mulai mendapatkan penanganan. Namun, Wahyu mengakui masih terdapat beberapa titik yang kondisinya belum sepenuhnya tertangani. Salah satunya ruas Segawe menuju Gabiran, yang masih ditemukan kerusakan, lubang serta permukaan jalan yang tidak rata.
Kondisi tersebut menjadi pekerjaan bersama yang membutuhkan sinergi lintas sektor. Pemerintah kecamatan, pemerintah desa, masyarakat dan perangkat daerah terkait diharapkan terus berkoordinasi agar persoalan infrastruktur dapat ditangani secara bertahap dan tepat sasaran.
Kegiatan Jogo Tulungagung di Pagerwojo pada akhirnya tidak sekadar berbicara mengenai keamanan wilayah. Gerakan ini diarahkan menjadi ruang untuk memperkuat hubungan pemerintah dengan masyarakat, membangun kepedulian lingkungan, menghidupkan kembali semangat gotong royong, memperhatikan infrastruktur, sekaligus memastikan persoalan pendidikan tidak terabaikan.
Pesan yang dibawa dari Pagerwojo jelas, pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Pemerintah harus hadir, masyarakat harus bergerak, dan keduanya harus berjalan dalam satu irama agar berbagai persoalan di tingkat bawah dapat diselesaikan secara nyata, terukur dan sesuai aturan.(Ft)










