Camat Sumbergempol Turun Tangan, Desak Perbaikan Menu MBG SPPG Junjung yang Disorot Minim Gizi
Tulungagung,-Camat Sumbergempol, Heru, turun tangan menyikapi polemik menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Junjung yang menjadi sorotan publik setelah viral di media sosial, Sabtu (4/4/2026).
Menu yang dipersoalkan berupa kentang goreng, dua potong tahu, satu sendok wortel, serta jeli dalam porsi kecil. Sajian tersebut menuai kritik karena dinilai tidak memenuhi standar gizi seimbang, baik dari sisi porsi maupun komposisi nutrisi.
Selain dinilai minim gizi, menu tersebut juga disorot dari sisi anggaran. Berdasarkan estimasi harga bahan pokok, total biaya satu porsi diperkirakan hanya berkisar Rp6.500 hingga Rp7.000. Angka ini jauh di bawah kisaran anggaran MBG yang selama ini ramai dibahas, yakni sekitar Rp10.000 hingga Rp15.000 per anak.
Menanggapi hal tersebut, Heru menyatakan telah meminta pihak SPPG untuk segera melakukan perbaikan serta meningkatkan koordinasi dengan penerima manfaat.
“Belum pernah ketemu, tapi kemarin sudah saya minta ada perbaikan dan koordinasi dengan penerima manfaat. Selanjutnya sudah ada perbaikan,” ujar Heru, Selasa (7/4/2026).
Ia juga menegaskan bahwa dirinya bersama Kapolsek telah menyampaikan langsung kepada kepala SPPG agar pelayanan program MBG dijalankan sesuai aturan yang berlaku, termasuk memastikan kualitas menu yang disajikan.
“Ya, saya dan Kapolsek sudah menyampaikan ke kepala SPPG-nya,” tegasnya.
Heru menekankan, pelaksanaan program MBG harus benar-benar memperhatikan aspek gizi, bukan sekadar penyediaan makanan.
“Untuk SPPG agar melayani MBG dengan baik sesuai aturan yang ada dan menu yang bergizi,” tambahnya.
Selain itu, pihak kecamatan juga mendorong peran aktif penerima manfaat dalam melakukan pengawasan. Ia menyebut telah tersedia mekanisme pelaporan melalui tim pengawas di berbagai tingkatan.
“Untuk penerima manfaat agar menyampaikan apabila ada pelayanan yang tidak sesuai melalui saluran yang ada, baik tim pengawas tingkat sekolah, desa, maupun kecamatan, sehingga bisa disampaikan ke SPPG yang melayani,” jelasnya.
Meski disebut telah ada perbaikan, polemik ini tetap menjadi perhatian publik. Evaluasi dan pengawasan berkelanjutan dinilai penting agar program MBG benar-benar berjalan sesuai tujuan, yakni meningkatkan kualitas gizi peserta didik secara optimal, bukan sekadar formalitas pembagian makanan.(Ft)










