Plt Bupati Ahmad Baharudin Hadiri Buka Giling PG Modjopanggoong 2026, Tegaskan Sinergi Wujudkan Swasembada Gula Nasional

Tulungagung,-Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin menghadiri acara Buka Giling Tebu Tahun 2026 di PG Modjopanggoong yang dirangkai dengan prosesi adat Manten Tebu, Sabtu (09/05/2026). Kehadiran orang nomor satu di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tulungagung tersebut menjadi bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap keberlangsungan industri gula sekaligus kesejahteraan petani tebu di Tulungagung.

Dalam kegiatan tersebut, Ahmad Baharudin didampingi Kepala Dinas Pertanian Tulungagung, Suyanto. Acara berlangsung meriah dengan nuansa budaya khas tradisi agraris masyarakat Tulungagung yang masih terus dijaga hingga saat ini.

Dalam sambutannya, Ahmad Baharudin menegaskan bahwa tradisi manten tebu bukan sekadar seremoni tahunan menjelang musim giling, melainkan warisan budaya yang memiliki nilai historis, sosial, dan ekonomi yang sangat kuat bagi masyarakat Tulungagung.

Menurutnya, tradisi manten tebu telah tumbuh dan berkembang seiring perjalanan industri gula sejak masa kolonial Belanda, ketika wilayah Tulungagung dikenal sebagai salah satu daerah penghasil tebu terbesar di Jawa Timur.
“Tradisi manten tebu merupakan simbol rasa syukur masyarakat agraris kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen yang diperoleh. Di dalam tradisi ini terkandung nilai gotong royong, kebersamaan, penghormatan kepada petani, serta upaya melestarikan budaya lokal yang menjadi identitas masyarakat Tulungagung,” ujar Ahmad Baharudin.

Ia menjelaskan, simbol pengantin laki-laki dan perempuan dalam prosesi manten tebu melambangkan harapan agar musim giling berjalan lancar, produksi gula meningkat, dan seluruh masyarakat, khususnya petani serta pekerja pabrik gula, diberikan keselamatan dan kesejahteraan.

Ahmad Baharudin juga menyoroti pentingnya menjaga tradisi tersebut di tengah perubahan zaman dan berkurangnya jumlah pabrik gula dibanding masa kejayaan industri gula dahulu.
“Walaupun perkembangan zaman terus berubah dan jumlah pabrik gula tidak sebanyak dulu, tradisi manten tebu harus tetap dipertahankan sebagai simbol identitas budaya sekaligus pengingat sejarah kejayaan industri gula di Kabupaten Tulungagung,” tegasnya.

BACA JUGA:  Ciptakan Rasa Aman, Polsek Jangkang Gencarkan Patroli Dialogis di Siang Hari

Ia berharap tradisi tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata, tetapi mampu menjadi penyemangat bagi seluruh elemen, mulai pemerintah, petani, hingga manajemen pabrik gula untuk terus meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil gula nasional.
“Semoga tradisi yang kita lestarikan bersama ini menjadi simbol semangat kerja keras, kebersamaan, dan harapan akan hasil giling yang melimpah serta membawa keberkahan bagi seluruh karyawan, petani tebu, dan masyarakat sekitar,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Plt Bupati juga memaparkan data sektor pertanian tebu di Tulungagung. Pada tahun 2025, luas areal tanaman tebu di Kabupaten Tulungagung mencapai sekitar 3.862 hektare dengan total produksi mencapai 366.890 ton tebu basah.
Produksi tersebut sebagian besar menjadi penopang kebutuhan bahan baku bagi PG Modjopanggoong yang selama ini menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat di wilayah Tulungagung dan sekitarnya.

Lebih lanjut Ahmad Baharudin mengungkapkan, dalam rangka mendukung program swasembada gula nasional yang dicanangkan Pemerintah Pusat, Kabupaten Tulungagung pada tahun 2026 mendapat target program bongkar ratoon seluas 1.055 hektare serta perluasan areal tanam baru seluas 176 hektare.

Menurutnya, target tersebut tidak akan dapat tercapai tanpa adanya sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, Dinas Pertanian, pihak pabrik gula, serta para petani tebu.
“Sinergitas antara pemerintah daerah, PG Modjopanggoong, dan para petani sangat dibutuhkan untuk merealisasikan target tersebut agar mampu mendukung swasembada gula nasional sebagaimana yang telah dicanangkan Pemerintah Pusat,” katanya.

Ia juga berharap dimulainya musim giling tahun 2026 mampu memberikan dampak positif terhadap stabilitas harga gula di pasar sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani tebu.
“Kemitraan antara pabrik gula dan petani tebu harus terus diperkuat guna menciptakan hubungan yang harmonis dan saling menguntungkan,” tandasnya.

BACA JUGA:  Polda Kalbar Laksanakan Asistensi Program Ketahanan Pangan di Wilayah Polsek Kapuas

Sementara itu, General Manager PG Modjopanggoong, Sugiyanto mengatakan pihaknya optimistis musim giling tahun 2026 akan berjalan lebih baik dan mampu mengembalikan prestasi PG Modjopanggoong di lingkungan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN).
Ia menjelaskan, pada musim giling tahun ini PG Modjopanggoong menargetkan tebu giling sebanyak 446.123 ton dengan produksi gula mencapai 33.705 ton.

Target tersebut akan dicapai melalui cakupan areal seluas 6.783 hektare yang tersebar di wilayah Malang, Blitar, Tulungagung, dan Trenggalek dengan lama masa giling sekitar 161 hari.
“Kami berharap seluruh proses produksi berjalan lancar, baik dari sisi mesin produksi maupun sumber daya manusia, sehingga PG Modjopanggoong kembali mampu meraih prestasi terbaik di lingkungan PT SGN seperti tahun-tahun sebelumnya,” ujar Sugiyanto.

Pada kesempatan yang sama, Senior Executive Vice President (SEVP) Pengembangan PT SGN, Putu Sukarmen menegaskan bahwa PG Modjopanggoong memiliki peran strategis dalam mendukung target swasembada gula nasional yang menjadi bagian dari program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Menurutnya, berbagai tantangan eksternal pada tahun 2025, terutama kondisi cuaca hujan berkepanjangan, memang sempat memengaruhi pertumbuhan tanaman tebu. Namun pihaknya memastikan seluruh kendala dapat ditangani dengan baik sehingga produktivitas tahun ini diharapkan meningkat.

Ia mengungkapkan, total produksi gula PT SGN pada tahun 2026 ditargetkan mencapai 1,1 juta ton dari total produksi nasional sebesar 3 juta ton.
“Artinya kontribusi SGN hampir mencapai 34 persen dari produksi gula nasional. Karena itu program bongkar ratoon dan perluasan areal menjadi solusi penting untuk meningkatkan kualitas serta ketersediaan bahan baku tebu,” jelasnya.

Di sisi lain, Ketua DPD Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Tulungagung, Santoso menyatakan komitmennya untuk terus mendukung ketersediaan bahan baku tebu bagi PG Modjopanggoong.

BACA JUGA:  Pengamanan Ketat Mengawal Pentas Seni Budaya dan Expo UMKM Imlek 2576 di Singkawang

Namun demikian, pihaknya juga meminta pemerintah segera menaikkan Harga Pokok Produksi (HPP) gula dari Rp14.500 menjadi Rp16.875 per kilogram guna meningkatkan kesejahteraan petani tebu.
“Kami berharap pemerintah segera menetapkan kenaikan HPP agar kesejahteraan petani tebu bisa meningkat dan semangat petani dalam menanam tebu semakin kuat,” pungkasnya.(Ft)

Mungkin Anda juga menyukai