Polemik MBG SPPG Gesikan Makin Memanas, Dua Kepala Desa Berbeda Pernyataan Soal Pengelola Dapur

TULUNGAGUNG,-Polemik Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari SPPG Gesikan, Kecamatan Pakel, semakin memanas. Setelah menu makanan yang diterima siswa menjadi sorotan publik, kini muncul perbedaan pernyataan antara dua kepala desa terkait siapa pihak yang mengelola dapur MBG tersebut.

Perdebatan publik bermula dari unggahan warganet di media sosial yang mempertanyakan kualitas makanan MBG. Dalam unggahan itu, seorang akun bahkan menyinggung dugaan ketidaksesuaian kualitas makanan dengan anggaran program.
“MBG Gesikan hari ini… pomo tuku Rp10.000 opo Rp5.000 luur,” tulis akun tersebut.

Unggahan itu memicu pro dan kontra di tengah masyarakat. Sebagian warga meminta masyarakat tetap bersyukur karena program tersebut merupakan bantuan pemerintah, sementara sebagian lain menilai kritik publik tetap penting demi evaluasi kualitas makanan bagi siswa.

Di tengah ramainya kritik itu, Kepala Desa Gesikan,Bangun jaya Jailani ikut memberikan pernyataan terkait pihak pengelola dapur MBG. Dalam pesan singkat yang beredar, ia menyebut pengelolaan dapur diduga berkaitan dengan sosok bernama Riski yang disebut sebagai pengurus Kadin Tulungagung.
“Riski kadin yang pegang Rohman Gesikan,” ujarnya.
Ia kemudian kembali menegaskan pernyataannya.
“Riski Kadin Tulungagung yang punya,” lanjutnya.

Namun pernyataan tersebut justru dibantah oleh Kepala Desa Bangunjaya, Jaelan. Ia menyebut dapur MBG yang dimaksud bukan milik pihak yang disebut sebelumnya.
“Dudu ngrance mas… kwi dapur Proula Gesikan,” katanya.

Jaelan bahkan menilai ada kemungkinan kekeliruan informasi dalam pernyataan Kepala Desa Gesikan.
“Kliru Pak Nur berarti,” ujarnya.
Menurut Jaelan, di wilayah Gesikan terdapat dua dapur MBG, namun salah satunya disebut sudah berhenti beroperasi.
“Gesikan ada dua dapur, yang satu tutup, yang satu masih on,” jelasnya.

BACA JUGA:  Tapak Suci Gowa Juara Umum di Kejurwil

Ia juga menyebut dapur yang masih aktif diduga memiliki mitra dari wilayah Kediri.
“Koyoke Kediri mitrane,” tambahnya.
Meski demikian, Jaelan mengaku tidak mengenal secara pasti siapa pihak pengelola dapur tersebut.
“AQ gak kenal mas,” tandasnya.

Perbedaan pernyataan antara dua kepala desa itu kini memunculkan tanda tanya di tengah masyarakat terkait transparansi pengelolaan dapur MBG di Gesikan. Warga menilai polemik tersebut seharusnya segera diluruskan agar tidak memunculkan simpang siur informasi di publik.

Selain kualitas makanan yang menjadi sorotan, masyarakat kini juga mulai mempertanyakan sistem pengawasan, pengelolaan dapur, hingga pihak-pihak yang terlibat dalam program MBG yang menyangkut kebutuhan gizi anak sekolah tersebut.(Ft)

Mungkin Anda juga menyukai