SPPG Junjung Diserang Kritik, Menu MBG Murah Dinilai Tak Masuk Akal, BGN Bungkam
Tulungagung,-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Junjung menjadi sorotan publik setelah beredarnya unggahan di media sosial yang menampilkan menu dengan porsi minim, Sabtu (4/4/2026).
Dalam unggahan tersebut, menu yang disajikan berupa kentang goreng, dua potong tahu, satu sendok wortel, serta jeli dalam porsi kecil. Sajian ini langsung menuai beragam reaksi warganet yang mempertanyakan kelayakan gizi dari menu tersebut.
Sejumlah komentar menilai menu tersebut belum mencerminkan standar “bergizi” sebagaimana tujuan program MBG. Selain porsi yang terbatas, komposisi makanan juga dianggap tidak seimbang, terutama dari sisi protein, sayur, dan ketiadaan buah sebagai pelengkap nutrisi.
Jika ditelaah, sumber protein hanya berasal dari tahu dalam jumlah terbatas, sementara sayur sangat minim. Padahal, konsep gizi seimbang seharusnya mencakup karbohidrat, protein, sayur, dan buah dalam porsi yang cukup.
Tak hanya dari sisi gizi, dari segi biaya menu tersebut juga tergolong sangat rendah. Berdasarkan estimasi harga bahan pokok saat ini, kentang goreng diperkirakan sekitar Rp3.000, tahu dua potong sekitar Rp2.000, wortel sekitar Rp500, dan jeli sekitar Rp1.500.
Dengan demikian, total biaya satu porsi diperkirakan hanya berkisar Rp6.500 hingga Rp7.000.
Angka tersebut dinilai jauh di bawah kisaran anggaran MBG yang dalam berbagai pembahasan publik berada di rentang Rp10.000 hingga Rp15.000 per anak. Kondisi ini memunculkan dugaan bahwa penyusunan menu belum optimal dalam memanfaatkan anggaran yang tersedia.
Pengamat menilai, dengan tambahan biaya sekitar Rp2.000 hingga Rp3.000 saja, kualitas menu seharusnya bisa ditingkatkan, misalnya dengan menambahkan telur atau buah sebagai sumber protein dan vitamin tambahan.
Upaya konfirmasi telah dilakukan kepada Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Wilayah Tulungagung, Sebrina Mahardika. Namun saat dimintai tanggapan, yang bersangkutan belum memberikan respons hingga Selasa (7/4/2026).
Kondisi ini menambah sorotan publik terhadap transparansi dan pelaksanaan program MBG di lapangan. Masyarakat berharap adanya evaluasi menyeluruh agar program tersebut benar-benar memberikan manfaat optimal bagi peserta didik, bukan sekadar formalitas pembagian makanan.(Ft)










