“Hardiknas 2025: Pemerintah Resmikan Program Digitalisasi Pendidikan Nasional”
Jakarta,-Pemerintah resmi meluncurkan Program Digitalisasi Pembelajaran pada momentum Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2025. Program ini digadang-gadang menjadi salah satu Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden Prabowo Subianto dengan target menjangkau 288 ribu sekolah di seluruh Indonesia secara bertahap.
Program digitalisasi ini menghadirkan papan interaktif (interactive flat panel/IFP), konten pembelajaran digital, serta pelatihan guru untuk mempercepat transformasi pendidikan. Pemerintah menegaskan, langkah ini bukan sekadar inovasi, melainkan strategi nasional untuk menutup ketertinggalan literasi dan numerasi yang selama ini menjadi persoalan serius dalam pendidikan Indonesia.
Gagasan digitalisasi pembelajaran pertama kali disampaikan Presiden Prabowo pada Hari Guru Nasional 28 November 2024. Saat itu, Presiden menegaskan pentingnya kesetaraan akses belajar bagi seluruh sekolah, termasuk di pelosok.
“Insya Allah dalam waktu yang tidak lama lagi, saya akan menempatkan televisi yang cukup canggih di setiap sekolah di seluruh Indonesia. Dari layar televisi ini, akan disiarkan pelajaran semua ilmu yang diperlukan,” tegas Presiden kala itu.
Pernyataan ini kemudian diwujudkan melalui Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025 tentang percepatan pembangunan dan revitalisasi sekolah, pembangunan SMA Unggul Garuda, serta digitalisasi pembelajaran.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Menengah Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, S.Pd., M.Ed., Ph.D, menyebut program ini telah ditetapkan sebagai bagian dari RPJMN 2025–2029 serta masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN).
“Digitalisasi pembelajaran bukan hanya soal teknologi. Ini instrumen penting untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, memperdalam pemahaman materi, sekaligus mengasah keterampilan digital abad ke-21. Dengan pendekatan pedagogi modern, kita berharap ketertinggalan skor literasi dan numerasi dapat dikejar,” tegas Gogot.
Menurutnya, pandemi Covid-19 meninggalkan learning loss besar yang belum sepenuhnya teratasi. Digitalisasi diharapkan menjadi jawaban untuk memperkuat kualitas pembelajaran sekaligus memastikan pemerataan akses di seluruh Nusantara.
Pemerintah memastikan distribusi perangkat digital dilakukan melalui tahapan verifikasi dan validasi ketat. Dimulai dari data DAPODIK, diverifikasi oleh dinas pendidikan kabupaten/kota hingga provinsi, lalu dipastikan kesiapan sarana dan prasarana.
Hanya sekolah yang menandatangani surat pernyataan siap menerima dan memanfaatkan perangkat yang akan ditetapkan sebagai penerima. Mekanisme ini diharapkan mencegah perangkat mubazir akibat minimnya kesiapan teknis di lapangan.
Targetnya, 288 ribu sekolah akan menerima perangkat secara bertahap.
Meski ambisius, pemerintah tak menutup mata terhadap hambatan besar, khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Banyak sekolah masih terkendala listrik dan jaringan internet.
Untuk itu, Kemendikdasmen menggandeng PLN dalam penyediaan listrik, serta menyiapkan internet satelit bagi sekolah yang tidak terjangkau jaringan.
“Kolaborasi lintas sektor mutlak dilakukan agar sekolah di pelosok tidak tertinggal dalam program ini,” ujar Gogot.
Menyadari besarnya nilai proyek, pemerintah menegaskan seluruh proses pengadaan barang/jasa dilakukan sesuai Perpres 46/2025.
Mulai dari market sounding, penyusunan kontrak, hingga distribusi perangkat akan diawasi langsung oleh Kejaksaan Agung, KSP, LKPP, BPKP, Kemenko PMK, serta kementerian terkait. Langkah ini diambil untuk memastikan transparansi dan menghindari potensi penyimpangan.
Pemerintah menegaskan program ini tidak menggantikan agenda lain seperti pembangunan sekolah maupun peningkatan kesejahteraan guru. Justru, digitalisasi hadir sebagai pelengkap untuk memperkuat mutu pembelajaran.
“Pembangunan fisik sekolah tetap berjalan. Peningkatan kualitas guru juga tetap prioritas. Digitalisasi melalui smart classroom justru memperkaya proses belajar agar lebih interaktif dan relevan dengan generasi sekarang,” kata Gogot.
Guru juga dilatih memanfaatkan perangkat digital, mulai dari media pembelajaran interaktif hingga gim edukatif, agar selaras dengan gaya belajar generasi Z.
Selain itu, platform Rumah Pendidikan melalui menu Ruang Murid dan Ruang GTK menghadirkan konten pembelajaran serta ide-ide kreatif yang dapat diakses dari sekolah maupun rumah.
Dengan cakupan ratusan ribu sekolah, pengawalan hukum, serta dukungan lintas kementerian, digitalisasi pembelajaran diyakini menjadi tonggak baru pendidikan nasional.
“Dengan semangat gotong royong dan kolaborasi, mari kita wujudkan pendidikan yang inklusif, merata, dan berkelanjutan demi generasi Indonesia yang lebih unggul di masa depan,” pungkas Gogot.(Ft)










