Tanggapi Gangguan Kesehatan Siswa SMKN 3 Boyolangu, SPPG Tegaskan Bukan Keracunan

Tulungagung,-Sekitar 100 siswa SMKN 3 Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, dilaporkan mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi makanan yang disuplai oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di bawah naungan Badan Gizi Nasional Republik Indonesia. Peristiwa ini menjadi perhatian publik setelah keluhan kesehatan para siswa muncul pada Selasa, 20 Januari 2026.

Makanan tersebut dibagikan kepada siswa pada Senin, 19 Januari 2026, dengan menu ayam goreng, sambal pedas, dan buah semangka. Namun, sehari setelah konsumsi, sejumlah siswa mulai mengeluhkan kondisi tubuh yang tidak nyaman seperti pusing, mual, dan lemas.

Akibat kejadian tersebut, beberapa siswa harus mendapatkan penanganan medis. Sebagian ditangani dan dipantau di Unit Kesehatan Sekolah (UKS), sementara lainnya dirujuk ke Puskesmas Boyolangu untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Informasi awal yang beredar di masyarakat menyebutkan adanya dugaan keracunan makanan. Namun dugaan tersebut dibantah oleh NN, pengelola SPPG yang menyediakan makanan bagi siswa SMKN 3 Boyolangu.
Menurut NN, berdasarkan keterangan dari tenaga medis di Puskesmas Boyolangu, kondisi yang dialami para siswa tidak dapat dikategorikan sebagai keracunan makanan.

Keterangan dari dokter Puskesmas Boyolangu menyebutkan ini bukan keracunan. Kalau keracunan biasanya ada gejala muntah-muntah,” ujar NN saat dikonfirmasi, Selasa(20/1/2026).

Ia juga menekankan adanya jeda waktu antara konsumsi makanan dan munculnya gangguan kesehatan pada siswa.

Pemberian makanan dilakukan hari Senin, sedangkan keluhan baru muncul hari Selasa. Itu juga menjadi pertimbangan dari pihak medis,” tambahnya.

Hingga saat ini, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para siswa masih dalam tahap pemantauan. Pihak sekolah, pengelola SPPG, serta tenaga kesehatan terus melakukan koordinasi untuk memastikan kondisi siswa berangsur membaik dan situasi tetap terkendali.

BACA JUGA:  Kapolres Gowa Berikan Pembekalan pada Tim Supervisi

Meski dinyatakan bukan keracunan makanan, kejadian ini tetap memicu sorotan publik terhadap keamanan pangan di lingkungan sekolah, terutama dalam pelaksanaan program pemenuhan gizi. Masyarakat dan orang tua siswa berharap adanya evaluasi menyeluruh terhadap proses pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan agar kejadian serupa tidak terulang.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa setiap program pemenuhan gizi harus dijalankan dengan pengawasan ketat, transparansi, dan standar keamanan pangan yang tinggi, demi melindungi keselamatan peserta didik.(Ft)

Mungkin Anda juga menyukai