Perkuat Kesiapsiagaan Bencana, RSUD dr. Iskak Tegaskan Sistem Proteksi Kebakaran Berlapis dan Siap Hadapi Kondisi Darurat

TULUNGAGUNG,-Pascameningkatnya perhatian publik terhadap sistem keselamatan rumah sakit usai insiden kebakaran di RSUD Dr. Soetomo, manajemen RSUD dr. Iskak menegaskan seluruh sistem proteksi kebakaran di lingkungan rumah sakit dalam kondisi aktif, terawat, dan siap digunakan dalam keadaan darurat.

Sebagai rumah sakit rujukan regional, RSUD dr. Iskak menilai kesiapsiagaan bencana menjadi bagian penting dalam pelayanan kesehatan, tidak hanya bagi pasien dan pengunjung, tetapi juga seluruh tenaga kesehatan dan karyawan rumah sakit.

Direktur RSUD dr. Iskak,Dr Zuhrotul Aini,SPA., M.Kes menegaskan rumah sakit merupakan garda terdepan dalam penyelamatan korban saat situasi darurat sehingga keberlangsungan layanan harus tetap terjaga dalam kondisi apa pun.
“Rumah sakit adalah garda terdepan dalam penyelamatan korban saat keadaan darurat. Kesiapsiagaan tidak hanya bertumpu pada kecanggihan alat kesehatan, tetapi juga sistem komando yang terstruktur, koordinasi lintas unit yang solid, serta kecepatan respons seluruh sumber daya manusia,” tegasnya saat Workshop Manajemen Bencana dan Pemutakhiran Hospital Disaster Plan (HDP), Selasa (12/05/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Gedung IDIK Lantai 2 tersebut menghadirkan narasumber dari Forum Pengurangan Risiko Bencana BPBD Jawa Timur sebagai bagian dari penguatan sistem kesiapsiagaan rumah sakit menghadapi berbagai ancaman, mulai gempa bumi, banjir, hingga kebakaran.

Dalam penjelasannya, manajemen RSUD dr. Iskak menegaskan sistem penanggulangan kebakaran di rumah sakit tidak hanya mengandalkan hydrant semata. Rumah sakit telah dilengkapi sistem proteksi berlapis mulai dari smoke detector, heat detector, fire alarm, APAR, sprinkler, hingga hydrant.

Seluruh perangkat tersebut disebut aktif dan rutin dilakukan pengawasan serta pengujian berkala sesuai standar keselamatan kebakaran. RSUD dr. Iskak juga memiliki kotak hydrant di area strategis, pilar hydrant untuk suplai air luar gedung, serta Siamese Connection sebagai jalur distribusi air bagi petugas pemadam kebakaran.

BACA JUGA:  Hari Bhayangkara Jadi Momen Silaturahmi dan Penguatan Ketahanan Pangan di Kecamatan Toba

Saat ini terdapat enam titik hydrant aktif di lingkungan rumah sakit. Pengelolaannya mengacu pada standar NFPA 25 (National Fire Protection Association) serta Peraturan PUPR Nomor 26 Tahun 2008 tentang persyaratan teknis sistem proteksi kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungan.

Pihak rumah sakit menjelaskan inspeksi visual hydrant dilakukan setiap bulan, sedangkan pengujian tekanan air dilaksanakan setahun sekali. Pengujian terakhir dilakukan Juli 2025 oleh tim internal K3RS, sementara pengujian oleh tim ahli eksternal PJK3 dijadwalkan pada Juli 2026.

Selain itu, saat ini juga telah dilakukan pengkajian dan perencanaan pengembangan sistem hydrant dengan berkoordinasi bersama instansi terkait sebagai bagian dari upaya peningkatan kapasitas proteksi kebakaran dan penguatan sistem keselamatan rumah sakit secara berkelanjutan.

Untuk penanganan awal kebakaran, RSUD dr. Iskak juga menyiagakan ratusan APAR yang tersebar di berbagai titik strategis, mulai ruang rawat inap, IGD, poliklinik, apotek, hingga ruang penunjang medis dan area perkantoran.

Pengecekan APAR dilakukan rutin setiap bulan, mencakup kondisi nozzle, tekanan gas, pin pengaman, hingga masa kedaluwarsa media pemadam.

Selain sarana proteksi, rumah sakit juga menekankan pentingnya kesiapan sumber daya manusia. Sosialisasi penggunaan APAR dan prosedur tanggap darurat disebut rutin dilakukan dua kali seminggu saat apel pagi serta melalui edukasi keselamatan kerja ke seluruh unit pelayanan secara bergilir.

Pelatihan penanggulangan kebakaran juga dilakukan bersama narasumber dari BPBD Kabupaten Tulungagung dengan simulasi langsung penanganan kondisi darurat.

Kepala Pelaksana BPBD Tulungagung, Sudarmaji, menekankan pentingnya membangun budaya sadar bencana di lingkungan kerja serta memperkuat koordinasi lintas sektor.

Menurut pihak rumah sakit, keselamatan pasien bukan sekadar slogan, tetapi prioritas utama pelayanan. Untuk itu dibentuk Komite Keselamatan Pasien serta Komite Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit (K3RS) guna memastikan standar keamanan terus berjalan.

BACA JUGA:  Libatkan Berbagai Tenaga Ahli Labfor Makassar, Polda Sulteng Ungkap Penyebab Kematian Afif Siraja

Manajemen rumah sakit menyebut hydrant merupakan lapis perlindungan terakhir apabila api sudah membesar, sementara penanganan awal lebih difokuskan pada sistem deteksi dini dan pemadaman cepat agar kebakaran tidak berkembang menjadi situasi besar.

Melalui monitoring, evaluasi, maintenance berkala, serta penguatan manajemen risiko sesuai regulasi Kementerian Kesehatan Nomor 66 Tahun 2016, RSUD dr. Iskak berkomitmen menjaga keselamatan pasien, pengunjung, dan seluruh tenaga kesehatan dari risiko kebakaran maupun bencana lainnya.

Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap keselamatan fasilitas kesehatan, keterbukaan informasi, kesiapan simulasi darurat, serta efektivitas sistem proteksi kebakaran dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap layanan rumah sakit.(Ft)

Mungkin Anda juga menyukai