Kemarau Tak Surutkan Produktivitas, Dinas Pertanian Tulungagung Perkuat Tabela dan Varietas Unggul

TULUNGAGUNG,-Musim kemarau tak menyurutkan produktivitas sektor pertanian Kabupaten Tulungagung. Penguatan varietas unggul, inovasi teknologi budidaya, ketersediaan pengairan, optimalisasi indeks pertanaman serta diversifikasi komoditas terus dilakukan Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung untuk menjaga produksi sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.

Salah satu inovasi yang terus dikembangkan adalah metode Tanam Benih Langsung (Tabela) yang diterapkan di Desa Bendungan, Kecamatan Gondang. Program tersebut merupakan bagian dari program pemerintah pusat yang dilaksanakan melalui 19 Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di Kabupaten Tulungagung.

Penerapan Tabela kini telah mencakup lahan lebih dari 100 hektare di berbagai wilayah. Metode tersebut dinilai mampu menekan kebutuhan tenaga kerja dan biaya budidaya karena proses penanaman dilakukan secara langsung, sekaligus mempercepat proses produksi.

Dari sisi potensi hasil, Tabela diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 10–12 ton per hektare. Sementara metode konvensional berada pada kisaran 7–8 ton per hektare.

Perbedaan juga terlihat pada kebutuhan benih. Pola konvensional umumnya membutuhkan sekitar 25–45 kilogram benih per hektare, sedangkan Tabela membutuhkan sekitar 80–100 kilogram per hektare karena benih ditanam langsung dengan populasi lebih rapat.

Selain Tabela, Dinas Pertanian juga mengembangkan varietas padi Paktiwi 1 di Desa Dukuh, Kecamatan Gondang. Varietas tersebut menunjukkan pertumbuhan yang baik dengan potensi produksi sekitar 7–8 ton per hektare.

Paktiwi 1 dinilai sesuai dengan kondisi lahan di wilayah Gondang. Bulirnya cenderung lebih besar dan berisi. Pengembangannya juga diarahkan untuk mendukung Indeks Pertanaman (IP) 300, yakni tiga kali tanam dalam satu tahun.

Pengembangan tersebut turut didampingi Kelompok Tani Desa Dukuh, Kelompok Tani Desa Kendal dan Kelompok Tani Desa Bendungan bersama Kepala BPP Pertanian Kecamatan Gondang. Pendampingan dilakukan untuk memastikan penerapan teknologi budidaya, pengembangan varietas serta program pertanian berjalan sesuai kondisi lahan dan kebutuhan petani.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung, Drs. Suyanto, M.M., Selasa (29/9/2026), menegaskan bahwa musim kemarau bukan alasan untuk menurunkan produktivitas pertanian.

BACA JUGA:  Penuhi 64 Kriteria, Jasa Raharja Terima Sertifikasi SMK3 dari Kemnaker RI

Kita terus mendorong petani agar tetap produktif meskipun menghadapi musim kemarau. Inovasi seperti Tabela, penggunaan varietas unggul, optimalisasi indeks pertanaman dan dukungan pengairan harus terus diperkuat. Dengan demikian, lahan tetap produktif, produksi pangan terjaga dan pendapatan petani dapat meningkat,” tegas Suyanto.

Ketahanan pertanian Tulungagung selama musim kemarau juga ditopang sistem pengairan yang tetap terjaga. Infrastruktur berupa irigasi perpompaan, perpipaan dan jaringan irigasi tersier menjadi bagian penting dalam memastikan pasokan air ke lahan pertanian.

Dengan dukungan tersebut, petani tetap dapat mengembangkan berbagai komoditas, tidak hanya padi, tetapi juga jagung, palawija, hortikultura hingga tembakau sesuai karakteristik lahan dan ketersediaan air.

Pada komoditas tembakau, luas lahan mencapai sekitar 988 hektare. Produktivitas tembakau rajangan kering berada pada kisaran 1.400–1.700 kilogram per hektare, atau sekitar 14–18 ton per hektare dalam bentuk daun basah. Saat ini, proses panen raya telah berlangsung lebih dari 50 persen.

Dari sisi harga, tembakau daun basah berada pada kisaran Rp700.000–Rp950.000 per kuintal, sedangkan tembakau kering rajangan berkisar Rp120.000–Rp130.000 per kilogram.

Hasil tembakau rajangan Jawa dari Tulungagung juga memiliki pasar yang cukup luas. Selain memenuhi kebutuhan pabrik lokal, produksi dipasarkan ke sejumlah daerah seperti Trenggalek, Pacitan dan Wonogiri, hingga menjangkau pasar Sumatra dan Kalimantan.

Sementara itu, komoditas jagung juga menunjukkan capaian produksi yang signifikan. Data Dinas Pertanian mencatat luas tanam jagung sekitar 27.281 hektare, dengan luas panen mencapai 35.589 hektare dan produksi sebesar 277.377,83 ton.

Suyanto mengatakan, capaian tersebut menunjukkan jagung tetap menjadi salah satu komoditas penting dalam menopang produktivitas pertanian Tulungagung, termasuk dalam pemanfaatan lahan pada musim kemarau.

Capaian ini menunjukkan bahwa jagung tetap menjadi komoditas penting yang mampu menopang produktivitas pertanian Tulungagung. Kami terus mendorong optimalisasi lahan, penerapan teknologi budidaya serta pendampingan kepada petani agar produktivitas dan hasil panen dapat terus dijaga,” tegas Suyanto.

BACA JUGA:  Plt Kadindik Tulungagung Fokus Layanan, Klaim Tak Tahu Dugaan Pemerasan Kepsek oleh Bupati

Menurutnya, penguatan komoditas jagung menjadi bagian dari strategi Dinas Pertanian untuk mengoptimalkan potensi lahan sekaligus menjaga kesinambungan produksi pangan daerah.

Kita ingin setiap lahan dapat dimanfaatkan secara optimal sesuai karakteristik wilayah. Dengan dukungan teknologi, pengairan dan pendampingan yang berkelanjutan, petani dapat meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat pendapatan mereka,” ujarnya.

Suyanto menambahkan, berbagai capaian tersebut tidak terlepas dari pembinaan dan pendampingan secara berkelanjutan yang melibatkan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), kelompok tani, BPP Pertanian, Dinas Pertanian, pemerintah daerah serta pemerintah pusat.

Kuncinya adalah bagaimana teknologi, ketersediaan air dan pendampingan benar-benar memberikan manfaat langsung bagi petani. Kita ingin potensi lahan di Tulungagung bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk menjaga produksi pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani,” ujarnya.

Pengembangan varietas unggul, penerapan inovasi Tabela, optimalisasi indeks pertanaman, penguatan jaringan pengairan serta diversifikasi komoditas menjadi rangkaian strategi Dinas Pertanian untuk menjaga produktivitas pertanian Tulungagung.

Langkah tersebut sekaligus diarahkan untuk memperkuat pendapatan petani, menjaga kesinambungan produksi pangan dan mendukung program pemerintah dalam mewujudkan ketahanan serta swasembada pangan di Kabupaten Tulungagung.

Dengan dukungan teknologi budidaya, sarana pengairan, pendampingan kelompok tani dan BPP, serta pengembangan komoditas sesuai potensi wilayah, sektor pertanian Tulungagung terus didorong agar tetap produktif, adaptif menghadapi musim kemarau dan mampu menjaga kesinambungan produksi pangan daerah.
(Ft)

Mungkin Anda juga menyukai