Tulungagung Masuk Peringkat 4 Kasus HIV/AIDS Tertinggi di Jawa Timur, Kasus Remaja dan Produktif Meningkat
Tulungagung,-Kasus HIV/AIDS di Jawa Timur terus menjadi perhatian serius. Provinsi ini tercatat sebagai salah satu daerah dengan peningkatan kasus HIV/AIDS tertinggi secara nasional, dengan persebaran yang tidak terkonsentrasi pada satu wilayah, tetapi menyebar di berbagai kota dan kabupaten. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru dan laporan Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung, lima daerah dengan kasus HIV/AIDS tertinggi di Jatim adalah:
1. Kota Surabaya,Posisi tertinggi dengan 368 kasus, meski sempat mengalami penurunan, tetap menjadi yang tertinggi.
2. Kabupaten Sidoarjo,Kasus tertinggi kedua, tercatat 270 kasus.
3. Kabupaten Jember,Tercatat 229 kasus.
4. Kabupaten Tulungagung,Peringkat keempat dengan 209 kasus baru, bagian dari total 4.350 kasus HIV/AIDS sejak 2006. Kelompok usia produktif 25-49 tahun menjadi penyumbang utama, sementara kasus pada remaja mulai meningkat, tercatat 524 kasus.
5. Kabupaten Pasuruan,Peringkat kelima dengan 178 kasus, menunjukkan perlunya perhatian serius dari pemerintah untuk mencegah penularan lebih lanjut.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Tulungagung, Desi Lusiana Wardhani, menjelaskan bahwa temuan kasus baru hingga September 2025 mencapai 359 kasus, sementara tahun sebelumnya tercatat 395 kasus. Rata-rata temuan per tahun berkisar 350-400 kasus, menunjukkan angka yang relatif stabil, tetapi tetap membutuhkan perhatian serius.
Angka 4.350 itu merupakan data kumulatif sejak 2006 hingga 2025. Kelompok usia produktif masih mendominasi, namun kami juga mencatat peningkatan kasus di kalangan remaja, yang menjadi perhatian khusus kami,” ujar Desi, Senin (1/12/2025).
Tren tahunan menunjukkan dinamika yang cukup beragam. Lonjakan kasus terjadi pada 2018 dengan 390 kasus, menurun pada 2020-2022, lalu meningkat kembali pada 2024 dengan 395 kasus. Positivity rate HIV di Tulungagung juga menunjukkan tren menurun, dari 3,10 persen pada 2018 menjadi 1,01 persen per September 2025, meskipun jumlah tes meningkat secara signifikan. Hal ini menunjukkan kesadaran masyarakat untuk melakukan skrining semakin tinggi.
Dinkes Tulungagung mencatat bahwa dari total 4.350 kasus, sebanyak 3.954 ODHA telah memulai terapi Antiretroviral (ARV). Namun, tantangan masih besar: terdapat 230 pasien gagal follow-up dan 1.113 pasien tidak aktif lebih dari 24 bulan. Faktor penyebab utamanya antara lain mobilitas kerja tinggi, minim dukungan keluarga, dan ketakutan terhadap diskriminasi. Desi menekankan, “Ketika pengobatan tidak dilanjutkan, perkembangan virus menjadi cepat dan risiko penularannya meningkat, terutama jika perilaku berisiko masih terjadi.”
Kasus HIV/AIDS di Tulungagung tidak hanya menimpa kelompok usia produktif. Kasus pada remaja mulai meningkat, sehingga Dinkes terus memperkuat edukasi, skrining, dan pendampingan bagi kelompok-kelompok rentan. Hal ini menjadi perhatian utama karena penularan pada usia muda dapat mempercepat persebaran virus.
Pemerintah daerah juga didorong untuk meningkatkan akses layanan kesehatan yang ramah, meminimalisir diskriminasi, dan memastikan pasien tetap menjalani terapi guna menekan risiko penularan lebih luas. Dinkes menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor, edukasi berkelanjutan, serta layanan yang ramah dan inklusif, sebagai kunci menekan laju penyebaran HIV/AIDS, baik di Tulungagung maupun di seluruh wilayah Jawa Timur.
Dengan posisi Tulungagung yang menempati peringkat 4 kasus HIV/AIDS tertinggi di Jatim, perhatian serius dari masyarakat dan pemerintah sangat dibutuhkan. Pencegahan, deteksi dini, dan kepatuhan terhadap pengobatan menjadi faktor krusial untuk menekan angka kasus dan memastikan ODHA mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik.(Ft)









