Disbudpar Tulungagung Gelar Wayang Kolaborasi, Perkuat Pelestarian Seni Tradisi di Hari Jadi ke-821

TULUNGAGUNG,-Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Tulungagung menggelar Pagelaran Wayang Kulit Kolaborasi yang memadukan tiga bentuk kesenian tradisional, yakni Wayang Kulit, Wayang Sandosa, dan Wayang Orang. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Wayang Nasional 2026 sekaligus memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Tulungagung ke-821 di titik nol alun alun Tulungagung.

Pertunjukan tersebut terbuka gratis untuk masyarakat umum.
Mengangkat lakon “Berdikari, Apakah Aku adalah Aku?”, pagelaran ini menyampaikan pesan tentang jati diri, kemandirian, serta nilai-nilai kehidupan melalui kekayaan seni pertunjukan tradisional.

Kolaborasi tiga genre pewayangan dalam satu panggung menjadi daya tarik utama. Perpaduan Wayang Kulit, Wayang Sandosa, dan Wayang Orang tidak hanya memperkaya bentuk pertunjukan, tetapi juga menunjukkan bahwa seni tradisional dapat terus dikembangkan secara kreatif tanpa meninggalkan akar budaya dan nilai-nilai luhur warisan leluhur.

Pagelaran tersebut turut menghadirkan Jo Klitik dan Jo Klutuk sebagai bintang tamu, dengan persembahan dari Pakudhatu.

Hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Tulungagung, Drs. Tri Hariadi, M.Si., yang mewakili Plt. Bupati Tulungagung, H. Ahmad Baharudin, S.M., M.M. Turut hadir Ketua DPRD Kabupaten Tulungagung, Marsono, S.Sos., jajaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta Ketua Panitia Hari Jadi Kabupaten Tulungagung ke-821, Ir. Mulyanto, S.Pt., M.M.

Dalam sambutannya, mewakili Plt. Bupati Ahmad Baharudin, Tri Hariadi menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pagelaran tersebut. Ia menilai kolaborasi Wayang Kulit dan Wayang Orang merupakan konsep pertunjukan yang menarik sekaligus memberikan pengalaman baru bagi masyarakat.

Tri Hariadi mengaku belum pernah menyaksikan secara langsung bentuk kolaborasi seni seperti yang ditampilkan malam itu. Menurutnya, konsep pertunjukan tersebut mampu menghadirkan rasa penasaran sekaligus memberikan warna baru dalam penyajian seni tradisional.

Ia menegaskan bahwa seni pewayangan bukan sekadar hiburan, melainkan juga memiliki nilai pendidikan dan filosofi kehidupan. Wayang mengandung tiga fungsi penting, yakni sebagai tontonan, tuntunan, dan tatanan yang dapat menjadi pedoman pembelajaran bagi masyarakat.

BACA JUGA:  Tingkatkan Keamanan, Polsek Toba Gelar Patroli Dialogis di Awal Ramadhan

Menurutnya, karakter dan cerita dalam dunia pewayangan menyimpan berbagai pesan moral serta nilai kehidupan yang patut dipahami dan dilestarikan bersama.

Ia juga berharap pertunjukan tersebut tidak hanya memberikan hiburan, tetapi mampu menambah wawasan masyarakat mengenai filosofi yang terkandung dalam cerita pewayangan. Salah satunya melalui kisah Dewa Ruci yang sarat dengan simbol dan pesan filosofis, termasuk nilai-nilai kepahlawanan yang dapat dijadikan teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut, Tri Hariadi menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Tulungagung ke-821. Pemerintah Kabupaten Tulungagung telah menyiapkan berbagai agenda kegiatan sejak Oktober, November hingga Desember 2026.

Ia mengajak seluruh masyarakat untuk mengikuti dan berpartisipasi aktif dalam berbagai rangkaian kegiatan tersebut. Menurutnya, peringatan hari jadi bukan sekadar agenda seremonial pemerintah, melainkan momentum kebersamaan yang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk terlibat langsung dalam berbagai kegiatan daerah.

Tri Hariadi berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, baik yang hadir secara langsung maupun yang menyaksikan melalui layar dari rumah masing-masing.

Melalui penyelenggaraan pagelaran ini, Disbudpar Kabupaten Tulungagung terus mendorong pelestarian warisan budaya sekaligus memberikan ruang apresiasi bagi para pelaku seni untuk berkarya dan berinovasi. Kolaborasi lintas genre pewayangan menjadi salah satu upaya memperkenalkan kekayaan seni tradisional kepada generasi muda agar tetap dikenal, diminati, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pemilihan Titik 0 Kilometer sebagai lokasi pertunjukan juga menjadi langkah strategis dalam menghidupkan ruang publik sebagai pusat aktivitas kebudayaan. Dengan demikian, masyarakat dari berbagai kalangan dapat menikmati pertunjukan seni tradisional secara langsung tanpa dipungut biaya.

Pagelaran Wayang Kulit Kolaborasi ini menjadi momentum penting untuk memperkuat identitas dan kebanggaan budaya daerah. Peringatan Hari Wayang Nasional 2026 dan Hari Jadi Kabupaten Tulungagung ke-821 diharapkan tidak hanya menjadi perayaan seremonial, tetapi juga memperkuat komitmen bersama dalam menjaga, mengembangkan, dan mewariskan kekayaan seni budaya kepada generasi mendatang.

BACA JUGA:  Ketua Umum LSM Perak Temukan Oknum Minta Lapak untuk Kepentingan Pilgub

Melalui kolaborasi tersebut, Tulungagung menegaskan bahwa pelestarian budaya bukan hanya menjaga warisan masa lalu, melainkan juga membangun jati diri dan memastikan keberlanjutan seni tradisi bagi generasi masa depan.(Ft)

Mungkin Anda juga menyukai