Program RJIT Gapoktan Ngudi Makmur: Infrastruktur Irigasi Berkualitas Tingkatkan Kesejahteraan Petani
Tulungagung,-Program Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT) yang dilaksanakan oleh Gapoktan Ngudi Makmur di Dusun Nakeran RT 33, Desa Pakisrejo, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, berhasil menunjukkan dampak nyata bagi sektor pertanian. Pembangunan saluran irigasi tersier sepanjang 110 meter dengan nilai anggaran Rp 75 juta ini berlangsung selama Agustus hingga Oktober 2023, dan kini menjadi tulang punggung distribusi air bagi ratusan hektare sawah warga setempat.
Sebelum proyek RJIT ini dijalankan, petani di Dusun Nakeran kerap menghadapi kesulitan air, terutama di musim kemarau. Banyak lahan sawah di ujung saluran tidak terairi, sehingga penanaman terlambat, produktivitas menurun, dan sebagian lahan terpaksa dibiarkan kosong. Dengan hadirnya proyek RJIT, aliran air kini lancar, merata, dan stabil, memungkinkan petani menanam tepat waktu dan memaksimalkan hasil panen.
Ketua Gapoktan Ngudi Makmur, Rofik Jazuli, menjelaskan bahwa proyek ini dilakukan dengan prinsip transparansi, gotong royong, dan pengawasan ketat.
Pekerjaan dimulai Agustus dan selesai Oktober 2023. Kualitas bangunannya bagus, air mengalir lancar ke sawah, dan semua anggota Gapoktan ikut mengawasi agar hasilnya maksimal. Kami berharap produktivitas petani meningkat dan ekonomi masyarakat ikut terangkat,” ujar Rofik.
Rofik menekankan bahwa proyek RJIT tidak hanya memperbaiki saluran, tetapi juga meningkatkan kemandirian petani. Dengan aliran air yang lancar, petani kini dapat menanam padi, palawija, dan hortikultura dengan lebih mudah, bahkan di luar musim tanam utama.
Program ini membuktikan, jika pengelolaan proyek dilakukan dengan baik dan melibatkan petani, hasilnya langsung terasa di lapangan,” tambahnya.
Salah satu anggota Gapoktan Ngudi Makmur, Ripto, menyampaikan apresiasi atas program ini.
Kami di Dusun Nakeran sekarang sangat terbantu. Dulu air sering tersumbat dan sawah kering. Sekarang alirannya lancar terus, bangunannya kuat dan rapi. Hasil panen meningkat, bahkan bisa dua kali tanam dalam setahun. Ini benar-benar membantu kehidupan petani,” ujar Ripto.
Ripto menambahkan, keberadaan saluran irigasi yang baru juga menekan biaya operasional petani. Petani tidak lagi harus menyedot air menggunakan mesin diesel mahal, dan waktu tanam menjadi lebih efisien. Hal ini secara langsung meningkatkan pendapatan dan mengurangi risiko gagal panen akibat kekeringan.
Pemerintah Desa Pakisrejo memberikan apresiasi tinggi terhadap proyek RJIT.
Kami menilai pembangunan saluran irigasi di Dusun Nakeran RT 33 berjalan sesuai kebutuhan masyarakat. Kami akan terus memantau dan membantu pemeliharaan agar saluran ini berfungsi jangka panjang. Jika petani sejahtera, desa juga ikut maju,” ujar perwakilan pemerintah desa.
Selain meningkatkan produktivitas, proyek ini juga menumbuhkan semangat gotong royong. Petani bersama-sama menjaga saluran agar tetap bersih dan berfungsi maksimal, sehingga keberlanjutan manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan. Dengan begitu, proyek ini tidak hanya soal fisik, tetapi juga membangun kesadaran kolektif dalam mengelola sumber daya pertanian.
Program RJIT merupakan bagian dari strategi pemerintah melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Tujuan utamanya adalah memperbaiki infrastruktur irigasi yang rusak, meningkatkan efisiensi distribusi air, dan membantu petani mengoptimalkan produksi.
Di Kabupaten Tulungagung, keberhasilan program RJIT di Dusun Nakeran RT 33 menjadi contoh nyata sinergi antara pemerintah, kelompok tani, dan masyarakat, di mana pengelolaan anggaran transparan, hasil pekerjaan berkualitas, dan manfaat langsung dirasakan warga.
Dengan kualitas bangunan yang bagus, pengelolaan yang transparan, serta dampak sosial dan ekonomi yang nyata, program RJIT di Dusun Nakeran RT 33, Desa Pakisrejo, Kecamatan Rejotangan, menjadi contoh keberhasilan pembangunan pertanian berbasis kebutuhan masyarakat.
Air mengalir lancar, hasil panen meningkat, biaya operasional menurun, dan semangat petani kembali tumbuh. Proyek ini menjadi bukti bahwa kombinasi antara perencanaan matang, partisipasi masyarakat, dan pengawasan efektif mampu menghasilkan program yang tepat sasaran dan berkelanjutan.(Ft)










